Berobat sebagai Ibadah

”Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus [10]: 57)

 

Manusia adalah makhluk lemah. Tidak selamanya sehat dan kuat. Pada waktu-waktu tertentu dia pun mengalami sakit, lemah, bahkan menua dan akhirnya meninggal. Ini adalah sunatullah yang telah Allah Ta’ala tetapkan. Tiada yang kekal di dunia ini. Yang kekal hanyalah Dia, Allah Ta’ala.

 

Walaupun demikian, manusia dituntut melakukan yang terbaik dalam setiap episode kehidupan yang dijalaninya. Ketika sedang sehat, dia dituntut mengoptimalkan kesehatannya agar bisa menghasilkan nilai lebih bagi diri, sesama, dan lingkungannya. Ketika kuat dan muda, dia memiliki kewajiban berkontribusi positif dengan kekuatan dan kemudaannya.

 

Demikian pula ketika sakit, dia dituntut optimal dalam menghadapi sakitnya. Salah satunya adalah dengan senantiasa bersikap positif, tidak banyak mengeluh dan menyalahkan siapa pun. Bersabar menjalani sakit sebagai sebentuk penggugur atas segala dosa maupun kesalahannya, dan tidak berputus asa berikhtiar mencari kesembuhan.

 

Berobat mencari kesembuhan harus pula dimaknai sebagai ibadah. Bukankah Allah Ta’ala tidak menurunkan suatu penyakit kecuali dengan penawarnya? Bukankah Rasulullah saw sangat mendorong manusia mencari pengobatan ketika mereka sakit? Bahkan, Allah Ta’ala menurunkan al-Quran dan menjadikannya sebagai syifa’ atau obat (QS al-Isrâ’ [17]: 82).

 

Al-Quran pun menyebutkan sejumlah hal yang berkaitan langsung dengan praktik pengobatan, semisal kisah sakitnya Nabi Ayub dan bagaimana dia bisa sembuh (QS. al-Anbiyâ’ [21]: 83-84 dan QS. Shâd [38]: 41-44). Tentang bagaimana Nabi Isa berhasil menyembuhkan sejumlah penyakit dari umatnya (QS. Ali ’Imrân [3]: 49 dan QS. al-Mâ’idah [5]: 11), atau bagaimana al-Quran menyebut madu sebagai obat (QS. an-Nahl [16]: 69). Hal ini bisa menjadi dasar bagi wajibnya kita mencari kesembuhan atas penyakit yang diderita. Sesungguhnya, sehat adalah fitrah manusia, dan setiap manusia pasti memiliki dorongan senantiasa berada dalam fitrahnya tersebut.

 

Namun demikian, ada prinsip yang harus kita pahami bahwa kesembuhan adalah mutlak kuasa Allah Ta’ala. Manusia hanya berikhtiar, mencoba, dan berusaha. Ada pun sembuh atau tidaknya, Allah sajalah yang kuasa menentukan; Allâh huwasy-syafi’ (QS Al-Anbiyâ’ [21]:83-84, QS Asy-Syu’arâ [26]:80, dan QS Shâd [38]:41-42). Jadi, yang menyembuhkan bukan obat, dokter, peralatan medis, atau apa pun. Semua itu hanyalah sekadar wasilah atau sarana.

 

Maka, dalam proses pengobatan, seorang dokter, tabib, atau terapis tidak layak sombong dengan keberhasilannya mengobati suatu penyakit. Seorang pasien pun demikian. Dia tidak layak menganggap bahwa dokter atau terapislah yang menyembuhkan penyakitnya. Salah besar jika dia sampai mengatakan, ”Dengan berobat ke Dokter A, saya bisa sembuh!” Jika demikian adanya, boleh jadi dia telah mengecilkan peranan Allah, bahkan telah menyekutukan-Nya dengan makhluk.

 

Pada sisi yang lain, kita pun jangan sampai tidak mengambil langkah-langkah pengobatan karena mengganggap Allah sajalah yang berhak menyembuhkan. Jika demikian, yang bersangkutan telah keliru dalam memahami ayat, ”Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkanku.” Memang benar hanya Allah yang kuasa menyembuhkan suatu penyakit, tetapi proses penyembuhannya sendiri membutuhkan peran aktif manusia untuk mencari sebab dari kesembuhannya itu. Semisal dengan meminum obat, pergi berobat, dan sebagainya.

 

Lalu, apa yang harus kita obati ketika sakit? Karena manusia terdiri dari unsur fisik dan non fisik, penyakitnya pun ada yang bersifat fisik dan non fisik. Dengan demikian, pengobatannya ditujukan untuk penyakit fisik dan penyakit non fisik, atau keduanya secara langsung. Bukankah manusia adalah sebuah kesatuan, yang mana antar yang fisik dan non fisik saling memengaruhi satu sama lain?

 

Pesan al-Quran untuk berobat pun merujuk kepada dua aspek ini. Mengutip pendapat Dr. Ahmad Husain Salim, kata syifa’ (terapi penyembuhan) di dalam al-Quran merujuk pada obat untuk penyakit fisik, sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surah an-Nahl [16]: 69, ”Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.”

 

Pada ayat yang lain, kata syifa’ juga merujuk pada terapi untuk penyakit yang bersifat psikologis, ”Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS Yunus [10]: 57)

 

Maka, kalau kita sakit berobatlah. Namun ingat, berobatlah dengan cara yang benar, kepada orang yang benar, dan tentu saja dengan niat yang benar. Insya Allah, sakit kita menjadi penggugur dosa dan berobatnya menjadi penambah pahala. [ↄ]

 

Penulis: Dr. Tauhid Nur Azhar, M.Kes (Akademisi, peneliti, penulis buku, trainer, konsultan, dan pendiri Fakultas Kedokteran Unisba)